
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menilai peluang pengembangan industri hilirisasi Indonesia tidak hanya berada di sektor pertambangan. Pemerintah kini mendorong percepatan hilirisasi pada sektor non-tambang seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan berbagai industri berbasis sumber daya alam lainnya yang dinilai memiliki nilai tambah besar bagi perekonomian nasional.
Selama beberapa tahun terakhir, hilirisasi identik dengan komoditas mineral seperti nikel, bauksit, dan tembaga. Namun BKPM melihat potensi sektor non-tambang justru sangat luas karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang beragam dan tersebar di berbagai wilayah. Pengolahan komoditas sebelum diekspor dinilai dapat meningkatkan nilai ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional.
Pemerintah saat ini juga tengah mempercepat sejumlah proyek hilirisasi strategis yang mencakup sektor pertanian, perkebunan, dan energi. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan meningkatkan kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB).
BKPM mencatat minat investor terhadap sektor hilirisasi masih terus meningkat. Pada kuartal pertama 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp147,5 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pengolahan berbasis sumber daya alam tetap menjadi salah satu tujuan investasi utama di Indonesia.
Selain menciptakan nilai tambah, hilirisasi non-tambang dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Industri pengolahan yang dibangun dekat sumber bahan baku dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, memperluas pasar bagi petani dan pelaku usaha kecil, serta mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah.
Pemerintah juga melihat peluang besar dalam pengembangan produk turunan berbasis perkebunan dan kehutanan. Komoditas seperti kelapa sawit, tebu, kakao, kopi, hingga hasil hutan dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang memiliki pasar ekspor lebih luas dibanding bahan mentah. Strategi tersebut dinilai mampu meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.
Untuk mendukung agenda tersebut, pemerintah terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi, pembangunan infrastruktur, dan penyediaan kawasan industri yang terintegrasi. Berbagai kebijakan itu diharapkan mampu menarik lebih banyak investasi baru ke sektor hilirisasi non-tambang.
BKPM optimistis hilirisasi non-tambang akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru dalam beberapa tahun ke depan. Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, pengembangan industri pengolahan dinilai dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri berbasis sumber daya alam di kawasan.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah penulis digital yang berfokus pada teknologi dan tren online. Ia berkontribusi di Kabarteknologi dengan menghadirkan konten yang informatif, terstruktur dengan baik, dan mudah dipahami oleh pembaca.




