
Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan alasan pemerintah menutup ratusan badan usaha milik negara yang dinilai tidak sehat. Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut negara bisa menghemat anggaran hingga triliunan rupiah jika perusahaan pelat merah yang terus merugi dan tidak berjalan baik dihentikan operasinya. Ia bahkan mengaitkan langkah itu dengan upaya membersihkan praktik yang menutup kerugian perusahaan dan dugaan korupsi di dalam tubuh BUMN.
Prabowo mengatakan jumlah BUMN yang masuk daftar evaluasi berada di kisaran 700 hingga 800 perusahaan. Target penataan itu disebut dipasang untuk diselesaikan sampai akhir 2026, dengan sebagian perusahaan sudah lebih dulu ditutup. CNBC Indonesia sebelumnya melaporkan, sekitar 240 BUMN telah masuk daftar penutupan karena dianggap tidak produktif dan terus membebani negara.
Dalam penjelasan yang dikutip CNBC Indonesia, Prabowo menilai negara selama ini terlalu lama membiarkan perusahaan yang tidak efisien tetap berjalan. Menurut dia, penutupan BUMN bermasalah menjadi salah satu cara paling cepat untuk memperbaiki kesehatan fiskal sekaligus mencegah kebocoran yang merugikan keuangan negara. Ia menekankan bahwa langkah tersebut bukan semata-mata memangkas jumlah perusahaan, melainkan mengubah budaya tata kelola agar lebih bersih dan efisien.
Pernyataan itu juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang dalam beberapa bulan terakhir memang gencar mendorong efisiensi belanja dan pembenahan aset negara. Di sektor BUMN, pemerintah disebut tengah menertibkan perusahaan yang tidak lagi layak dipertahankan agar aset negara tidak terus tersedot untuk menutup kerugian operasional. Langkah ini diyakini bisa membuat dana publik dialihkan ke program yang lebih produktif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Dari sisi kebijakan, keputusan menutup ratusan BUMN juga memberi sinyal bahwa pemerintah ingin mengurangi beban fiskal jangka panjang. Di saat bersamaan, langkah itu menuntut proses restrukturisasi yang hati-hati agar tidak menimbulkan gangguan pada layanan publik maupun tenaga kerja yang terdampak. Karena itu, sorotan publik kini bukan hanya pada jumlah BUMN yang ditutup, tetapi juga pada seberapa besar penghematan yang benar-benar bisa diwujudkan dan bagaimana pemerintah mengelola transisi setelah penutupan dilakukan.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.




