Rights Issue Terjepit Suku Bunga Tinggi dan Pasar Saham Lesu

Rights Issue Terjepit Suku Bunga Tinggi dan Pasar Saham Lesu
Ilustrasi. Foto: Rights Issue Terjepit Suku Bunga Tinggi dan Pasar Saham Lesu

Aksi rights issue menghadapi dilema di tengah tingginya suku bunga dan kondisi pasar saham yang belum sepenuhnya pulih. Bagi emiten, penerbitan saham baru menjadi alternatif untuk memperoleh pendanaan tanpa menambah beban bunga, tetapi minat investor yang selektif membuat penghimpunan modal tidak selalu mudah.

Situasi pasar sepanjang 2026 menjadi tantangan bagi perusahaan yang membutuhkan dana untuk ekspansi, memperkuat modal kerja, maupun memperbaiki struktur keuangan. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan lemahnya selera risiko membuat investor semakin berhati-hati dalam menyerap saham baru.

Di sisi lain, biaya pinjaman yang relatif mahal dapat mendorong perusahaan mempertimbangkan rights issue dibandingkan menambah utang. Melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), emiten dapat memperoleh tambahan modal dengan memberikan prioritas kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru.

Namun, kondisi pasar yang lesu menciptakan risiko tersendiri. Harga pelaksanaan yang kurang menarik berpotensi membuat pemegang saham enggan mengeksekusi haknya. Sementara itu, harga yang ditetapkan terlalu rendah dapat meningkatkan potensi dilusi bagi investor yang tidak berpartisipasi.

Data pasar menunjukkan aktivitas penghimpunan dana melalui rights issue masih terbatas. Hingga 10 Juli 2026, empat perusahaan telah melaksanakan aksi tersebut dengan total dana sekitar Rp3,89 triliun. Pada periode yang sama, hanya satu perusahaan dari sektor properti yang tercatat berada dalam antrean rights issue.

Kondisi ini berlangsung ketika pasar modal domestik juga menghadapi penurunan aktivitas pencatatan saham baru. Investor kini lebih selektif terhadap valuasi, kualitas fundamental, dan prospek perusahaan, sehingga akses pendanaan melalui bursa menjadi lebih menantang.

Meski demikian, rights issue tetap memiliki daya tarik bagi emiten yang ingin menjaga rasio utang. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada tujuan penggunaan dana, komitmen pemegang saham pengendali, harga pelaksanaan, serta kemampuan perusahaan meyakinkan pasar mengenai prospek bisnisnya.

Dalam situasi seperti ini, rights issue bukan sekadar keputusan mencari modal. Emiten perlu menyeimbangkan kebutuhan pendanaan dengan kemampuan investor menyerap saham baru di tengah likuiditas dan sentimen pasar yang terbatas.

Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah penulis digital yang berfokus pada teknologi dan tren online. Ia berkontribusi di Kabarteknologi dengan menghadirkan konten yang informatif, terstruktur dengan baik, dan mudah dipahami oleh pembaca.