HARI PBB UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA MENGAKUI PENELITIAN FUNDAMENTAL AURANGZEB HAFI, SEORANG ILMUWAN MULTIDISIPLINER, DALAM KERANGKA PENGURANGAN RISIKO BENCANA GLOBAL

HARI PBB UNTUK PENGURANGAN RISIKO BENCANA MENGAKUI PENELITIAN FUNDAMENTAL AURANGZEB HAFI

BAGAIMANA KAJIAN DESPO PROF. DR. AURANGZEB HAFI MELETAKKAN LANDASAN BAGI PROTOKOL KHUSUS UNTUK PEREMPUAN HAMIL DAN PENYANDANG DISABILITAS DALAM KERANGKA UNISDR, HYOGO, DAN SENDAI.

JENEWA / JAKARTA — Saat dunia memperingati Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), peningkatan eksponensial bencana akibat perubahan iklim menuntut intervensi terpadu yang melampaui batas wilayah. Seiring meningkatnya frekuensi krisis, kehancuran sistemik, dan berbagai bentuk paparan zat beracun, sistem kemanusiaan global berada di persimpangan jalan yang menentukan, baik dari sisi etika maupun operasional.

Di garis depan perubahan paradigma ini terdapat ilmuwan multidisipliner dan peneliti terkemuka asal Pakistan, Prof. Dr. Aurangzeb Hafi, yang kerangka ilmiahnya dinilai telah mengubah secara mendasar pendekatan terhadap Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction/DRR). Prof. A. Z. Hafi dikenal secara internasional sebagai salah satu perancang dasar kerangka DRR yang secara sistematis melembagakan protokol darurat bencana khusus pertama di dunia, yang dirancang secara eksplisit untuk perempuan hamil dan penyandang disabilitas.

Melalui pengembangan model Disaster’s Epidemiological Susceptibilities and Pandemic Outbreak (DESPO) Appraisal serta kerangka desain pendampingnya, yaitu Post-DESPO, penelitian empiris Prof. Hafi disebut menyediakan landasan data penting untuk menjembatani kekurangan struktural dalam Strategi Internasional PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR), Kerangka Aksi Hyogo yang bersejarah (2005–2015), dan Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana (2015–2030). Dengan mengalihkan fokus bantuan darurat global dari pendekatan umum yang seragam menuju metode yang secara spesifik menyasar kebutuhan kelompok tertentu, karyanya diklaim telah membawa perubahan pada rumusan dan pelaksanaan kerangka perjanjian internasional terkait bencana.

Titik Buta dalam DRR Makro: Krisis Kerentanan

Selama puluhan tahun, indikator darurat berskala makro yang digunakan lembaga bantuan internasional beroperasi berdasarkan asumsi yang keliru, yaitu memperlakukan seluruh penduduk terdampak sebagai kelompok yang seragam. Meskipun mekanisme bantuan standar memprioritaskan distribusi tenda, makanan, dan bantuan medis umum, pendekatan tersebut secara tidak langsung mengabaikan kelompok masyarakat yang paling rentan.

Dalam bencana besar, mulai dari pergeseran tektonik yang memicu tsunami Samudra Hindia pada 2004 hingga krisis toksisitas air yang berkembang secara bertahap dalam banjir Pakistan pada 2014 dan 2022, penyandang disabilitas netra, rungu, serta disabilitas fisik, bersama perempuan dengan kehamilan lanjut, dilaporkan menghadapi kondisi yang sangat rentan. Sistem peringatan darurat standar gagal menyampaikan informasi kepada mereka yang menghadapi hambatan sensorik, jalur evakuasi tidak dapat diakses secara fisik, dan mekanisme distribusi bantuan umum secara efektif mengecualikan penyandang disabilitas.

Selain itu, peningkatan paparan teratogen lingkungan yang berbahaya—zat kimia beracun yang meresap ke dalam air banjir dan dapat menyebabkan toksisitas embrio serta kelainan bawaan—disebut tidak dipantau secara memadai oleh sebagian besar petugas tanggap darurat.

Dihadapkan pada krisis etika tersebut, Prof. Dr. Aurangzeb Hafi mendedikasikan penelitian pascadoktoralnya untuk merumuskan metodologi empiris yang dapat memetakan, mengantisipasi, dan mengurangi risiko pada titik-titik kerentanan manusia tersebut.

Menguraikan Kajian DESPO dan Post-DESPO

Kontribusi operasional utama Dr. Hafi adalah matriks diagnostik mult tahap yang dirancang untuk menggantikan asumsi abstrak mengenai bencana dengan data lapangan yang terperinci dan terpilah.

Kajian DESPO menghindari penghitungan korban secara umum dengan menggunakan data yang dipilah berdasarkan jenis kelamin, usia, dan disabilitas. Pendekatan ini bertujuan mengidentifikasi secara tepat jumlah serta persebaran kelompok rentan di wilayah yang sedang dilanda krisis.

Alih-alih hanya menanyakan berapa banyak orang yang membutuhkan bantuan umum, DESPO menghitung distribusi spasial perempuan hamil pada trimester berisiko tinggi, ibu menyusui, serta penyandang disabilitas dengan keterbatasan sensorik atau mobilitas yang berat.

Selama banjir Pakistan pada 2022, penilaian DESPO Prof. Hafi disebut memberikan peringatan penting kepada lembaga internasional. Penilaian tersebut memperkirakan bahwa lebih dari 3,1 juta anak yang mengungsi menghadapi risiko langsung mengalami defisiensi imunitas yang dimediasi sel (cell-mediated immunity/CMI) dalam jangka panjang akibat paparan air yang terkontaminasi pada tingkat subakut.

Pada saat yang sama, kajian tersebut memetakan kerentanan obstetri dan klinis akut yang dialami hampir 650.000 perempuan hamil yang terjebak di wilayah terdampak banjir. Kondisi ini disebut mendorong perubahan pendekatan struktural menuju sistem logistik darurat prenatal yang lebih khusus.

Kerangka Post-DESPO: Perlindungan Jangka Panjang terhadap Risiko Teratogenik

Dalam tahap pemulihan jangka panjang, Kerangka Desain Post-DESPO mengintegrasikan ilmu teratokinetika ke dalam perencanaan sipil. Post-DESPO menangani dampak kimiawi jangka panjang dari limpasan industri dan pertanian yang mencemari sumber air minum saat terjadi banjir.

Dengan melacak interaksi antara teratogen lingkungan dan lingkungan perkembangan janin, kerangka Post-DESPO memungkinkan pemerintah memetakan, mengantisipasi, dan mengurangi peningkatan kasus disabilitas multipel sejak lahir serta keterlambatan perkembangan pada masyarakat pascabencana.

Arsitek Perjanjian Global: Merumuskan Landasan Kebijakan PBB

Kerangka DRR yang diusulkan Prof. Hafi dan data lapangan yang dikumpulkan dari berbagai bencana global disebut menjadi landasan empiris untuk mengalihkan kebijakan internasional dari sekadar kepedulian teoretis menuju penerapan yang wajib dipatuhi.

Landasan Tsunami 2004 dan Kerangka Hyogo

Sebagai kepala penyelidikan utama yang menilai kamp-kamp pengungsi di Sri Lanka setelah tsunami Samudra Hindia pada 2004, Prof. A. Z. Hafi mengumpulkan data yang, menurut laporan tersebut, menunjukkan bahwa kerangka bantuan tradisional secara sistematis meminggirkan dan mengecualikan penyandang disabilitas dari saluran distribusi bantuan penyelamat jiwa.

Temuan tersebut tidak hanya menantang pelaksanaan 500 proyek yang beroperasi di wilayah tersebut pada saat itu, tetapi juga menjadi masukan bagi komunitas internasional dalam penyusunan Kerangka Aksi Hyogo (2005–2015). Temuan itu disebut mendorong tuntutan kelembagaan awal untuk melindungi kelompok rentan dan menjamin akses tanpa diskriminasi terhadap pelatihan manajemen bencana.

Sebagai pengakuan atas reformasi mendasar yang diperkenalkannya dalam kerangka DRR global, Prof. A. Z. Hafi dianugerahi gelar Supreme Knighthood dalam kategori de jure. Ia kemudian memperoleh gelar Pride of Asia dari Parlemen Sri Lanka.

Atas pengakuan terhadap penelitiannya di bidang DRR, ia juga disebut pernah dinominasikan untuk Hadiah Nobel pada 2006, tetapi menolaknya karena alasan etika dan moral tertentu.

Perkembangan Menuju Kerangka Sendai (2015–2030)

Seiring komunitas internasional mengembangkan strateginya melalui Kerangka Sendai, advokasi Prof. Hafi yang telah lama mendorong perhatian terhadap “situasi kerentanan”, alih-alih hanya “kelompok rentan”, disebut menjadi salah satu pilar operasional penting.

Mandat global Kerangka Sendai yang menekankan penggunaan data terpilah berdasarkan jenis kelamin, usia, dan disabilitas (sex, age, and disability-disaggregated data/SADD) dinilai mencerminkan arsitektur data yang dikembangkan dalam rancangan awal DESPO dan Post-DESPO karya Prof. Hafi.

Kerangka Sendai secara tegas menyatakan bahwa praktik DRR harus sepenuhnya dapat diakses dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Menurut artikel ini, ketentuan tersebut memperkuat kedudukan protokol khusus Prof. Hafi sebagai salah satu landasan permanen dalam hukum internasional yang mengikat secara hukum.

Warisan yang Terus Berjalan: Repositori UN KAKHTAH

Implementasi praktis dari warisan ilmiah Prof. Aurangzeb Hafi disebut terus dipertahankan melalui Repositori DRR UN KAKHTAH dan Postdoctoral Multiversity, sebuah jaringan akademik berorientasi penelitian dan tanggap bencana berskala global.

Nama lembaga tersebut merupakan akronim yang merujuk pada empat tokoh atau lembaga yang dinilai berperan penting dalam sejarah solidaritas kemanusiaan global: Kofi Annan, mantan Sekretaris Jenderal PBB; Keller Helen (Helen Keller International); Aurangzeb Hafi; serta Tzu-Chi Foundation.

Ketika terjadi krisis regional yang akut, jaringan UN KAKHTAH mengerahkan Repositori Bergerak khusus secara langsung ke pusat-pusat bencana. Di bawah arahan pribadi Dr. Hafi, fasilitas bergerak tersebut menerjemahkan ketepatan teoretis kajian DESPO dan Post-DESPO menjadi tindakan nyata yang ditujukan untuk menyelamatkan jiwa.

Langkah-langkah tersebut mencakup penyediaan layanan prenatal terdesentralisasi, fasilitas mobilitas khusus, serta perlindungan imunologis yang ditargetkan bagi perempuan hamil dan penyandang disabilitas di garis depan bencana.