Mencicipi Buah Bisbul, Si Beludru Langka Khas Bogor

Buah bisbul, salah satu buah langka khas Bogor, kembali menjadi perhatian pecinta kuliner lokal karena teksturnya yang lembut menyerupai beludru serta cita rasanya yang khas, seiring meningkatnya minat terhadap pangan tradisional pada 2026.
Bisbul yang memiliki nama ilmiah Diospyros blancoi ini dikenal dengan kulitnya yang berwarna kemerahan dan permukaan berbulu halus. Saat matang, daging buahnya berwarna krem dengan aroma yang kuat serta rasa manis yang berpadu sedikit asam.
Di wilayah Bogor, tanaman bisbul sudah lama dibudidayakan secara terbatas di pekarangan rumah maupun kebun tradisional. Namun, keberadaannya kini semakin jarang ditemukan di pasar modern, sehingga membuatnya tergolong buah langka.
Sejumlah pelaku usaha kuliner mulai mengangkat kembali bisbul sebagai bahan olahan, mulai dari jus, selai, hingga makanan penutup. Upaya ini dinilai sebagai bagian dari pelestarian keanekaragaman hayati sekaligus memperkenalkan kembali buah lokal kepada generasi muda.
Menurut pemerhati tanaman lokal, bisbul memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan baik, terutama dalam sektor agrowisata dan produk olahan bernilai tambah. Selain itu, buah ini juga mengandung nutrisi seperti serat dan vitamin yang bermanfaat bagi kesehatan.
Pemerintah daerah setempat juga mendorong pelestarian tanaman bisbul melalui program penghijauan dan edukasi kepada masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan tanaman sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Ke depan, tantangan utama dalam pengembangan bisbul adalah meningkatkan produksi dan distribusi agar lebih mudah diakses. Dengan meningkatnya tren konsumsi pangan lokal, bisbul berpotensi kembali dikenal luas sebagai salah satu kekayaan hayati khas Indonesia.
